Minggu, 25 Mei 2008

Artkel- artikel Islami.
Buat Motivasi untuk Beribadah lebih Baik lagi kepada ALLOH SWT.

ANJURAN UNTUK BERPEGANG TEGUH DENGAN AS-SUNNAH

Sunnah merupakan perisai bagi yang mengenakannya dan jalan yang penuh air bagi yang menempuhnya. Baju besinya terasa lembut dipakai, naungannya rimbun dan penjelasannya sangat mencukupi serta bukti-buktinya pasti.
Dan sunnah itu menjamin keistiqomahan, keselamatan dan merupakan satu-satunya tangga yang dapat mengantarkan kepada tingkatan tertinggi serta sarana yang memadai untuk bergabung dengan golongan mulia.
Orang yang menjaga sunnah pasti terjaga dan orang yang memperhatikannya pasti diperhatikan. Barangsiapa yang mengikuti sunnah pasti berada di atas jalan yang lurus. Dan barangsiapa yang mengambil petunjuk dengan ilmu-ilmunya, berarti dia sedang menuju kedudukan yang penuh kenikmatan abadi.
Sungguh, telah banyak nash syari'at dan perkataan shahabat serta tabi'in yang mengandung motivasi dan anjuran untuk mencintai dan memegang teguh sunnah.
Dari Al-Kitab tercantum firman Allah Ta'ala: "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap perjumpaan dengan Allah dan hari akhirat dan dia banyak menyebut Allah." (Al-Ahzab:21).
Firman-Nya yang lain: "Katakanlah: 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian.' Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Ali 'Imran:31).
Allah juga berfirman: "Jika kalian mentaatinya (Nabi) pasti kalian mendapat petunjuk." (An-Nur:54). "Dan ikutilah ia agar kalian mendapat petunjuk." (Al-A'raf:158).
Sedangkan dalam As-Sunnah adalah yang telah diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam Shahihnya, dari Jabir bin 'Abdillah, ia berkata: "Adalah Rasulullah jika sedang berkhuthbah, memerah kedua matanya, tinggi suaranya dan memuncak kemarahannya seakan-akan ia seperti pemberi peringatan sebuah pasukan yang mengatakan: waspadalah kalian di waktu pagi dan sore….Dan beliau mengatakan, 'Amma ba'du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam, sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan dan setiap bid'ah adalah sesat.'"
Dalam hadits yang lain Rasulullah bersabda: "Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah dan mendengar serta taat, walaupun yang memimpin kalian seorang budak Habasyi, sesungguhnya barangsiapa yang hidup di suatu jaman nanti akan menjumpai perselisihan yang sangat banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Al-Khulafa` ar-Rasyidin yang telah mendapat petunjuk, gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham, serta waspadalah kalian dari perkara-perkara yang diada-adakan, karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah sesat." (Hadits riwayat Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah, berkata At-Tirmidzi: Hadits hasan shahih).
Diriwayatkan dari Abu Dzarr, ia berkata: "Sesungguhnya Rasulullah telah meninggalkan kita dan tidaklah seekor burung menggerakkan sayap-sayapnya di langit, kecuali beliau telah menyebutkan ilmunya untuk kita." (Diriwayakan oleh Al-Imam Ahmad dan Ath-Thabrani dan ia menambahkan: Bersabda Rasulullah: "Tidak tersisa satupun perkara yang bisa mendekatkan ke surga dan menjauhkan dari neraka kecuali telah dijelaskan kepada kalian.").
Adapun perkataan shahabat dan tabi'in serta 'ulama dalam memberi anjuran untuk berpegang teguh dengan sunnah sangatlah banyak, di antaranya:
Dari Yunus bin Yazid dari Az-Zuhri, dia berkata: "Dahulu 'ulama kami mengatakan: "Berpegang teguh dengan sunnah adalah keselamatan." (Sunan Ad-Darimi I/44).
Dari Hisyam bin 'Urwah, dari bapaknya dia berkata: "Perhatikan sunnah, perhatikan sunnah, karena sesungguhnya sunnah itu adalah tonggak agama." (Al-Marwazi dalam As-Sunnah hal. 29).
Wallaahu a'lamu bishshawaab.

JALAN SALAF JAMINAN KEBENARAN
Ahad, 29 Juni 2003 - 14:51:28, Penulis : Al-Ustadz Abu Usamah bin Rawiyah an Nawawi
Kategori : Manhaji

Kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah” telah menjadi slogan umum. Namun memahami keduanya dan mengamalkan kandungannya, agar sesuai dengan yang dimaukan , merupakan persoalan tersendiri. Kepada siapa kita harus merujuk?
Pada edisi sebelumnya telah dijelaskan, siapakah yang dimaksud dengan Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan manhaj (jalan/metode) yang mereka tempuh. Mereka bukanlah manusia khusus yang diciptakan oleh Allah untuk membawa amanat syariat-Nya. Juga bukan malaikat yang diutus oleh Allah untuk mengajarkan manusia tentang agama-Nya. Mereka adalah kaum muslimin itu sendiri yang memahami agamanya dengan benar berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah di atas pemahaman salafus shalih (pendahulu yang shalih).

Mereka (para shahabat ridhwanullah ‘alaihim ajma’in) adalah umat terbaik yang diciptakan untuk mendakwahkan kebenaran agama ini kepada seluruh umat. Mereka adalah generasi terbaik umat ini dari kalangan shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in, serta orang-orang yang mengikuti mereka di atas kebenaran. Mereka adalah salafus shalih, firqatun najiyah (orang-orang yang selamat), thaifah al manshurah (orang-orang yang selalu ditolong), ahlul hadits, ahlul atsar, dan mereka adalah salafiyyun.

Mereka adalah pilihan Allah dari segenap hamba-Nya yang akan menyuarakan kebenaran di mana saja dan kapan saja, bagaimanapun besar tantangan dan rintangan yang dihadapi. Slogan mereka adalah firman Allah:

الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

“Kebenaran itu datang dari Rabbmu, maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang-orang yang ragu.” (Al- Baqarah: 147)

:Juga sabda Rasulullah “Katakan yang benar walaupun pahit dan jangan kamu gentar cercaan orang yang mencerca.” ( HR. Al Baihaqi dalam Kitab Syu’abul Iman dari shahabat Abu Dzar. Lihat Al Misykat 3/ 1365)

Dari sinilah nama salafus shalih diabadikan oleh sejarah. Ditulis dengan tinta emas, terus dikenang, serta menjadi rujukan generasi sesudahnya. Bukankah ini merupakan satu kemuliaan dari Allah karena apa yang telah mereka berikan untuk agama-Nya? Dan karena apa yang mereka tempuh ketika Rasulullah masih hidup dan setelah wafat beliau?

Jawabannya adalah ya. Mereka mendapatkan yang demikian ini karena mereka berjalan di atas jalan Rasul-Nya. sebagai pemimpin Abu Bakar, khalifah pertama yang menggantikan Rasulullah umat ini, telah mendapatkan jaminan masuk surga, padahal ketika itu beliau masih hidup. Bukankah ini kemuliaan bagi beliau? Apakah manhajnya Abu Bakar sesuai manhajnya Rasulullah? Jawabannya tentu ya.

Begitu juga Umar, Utsman, Ali, dan para shahabat yang lain yang telah mendapatkan jaminan dari Rasulullah untuk masuk surga, padahal kaki-kaki mereka masih menapaki kehidupan. Merekalah yang juga disebutkan oleh Allah di dalam Al Qur’an:
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا
“Merekalah orang-orang yang telah diberikan nikmat oleh Allah dari kalangan para nabi, orang-orang yang jujur, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih”. (An-Nisaa’: 69)
Siapa lagi yang dimaksud dalam ayat ini setelah para nabi, kalau bukan orang-orang yang mengikuti mereka di atas manhaj Allah dari kalangan shahabat?

Mereka adalah generasi yang berusaha untuk mendapatkan dan . Duduk dan keluar dari majelismengambil warisan terbanyak dari Rasulullah dalam keadaan membawa kemurnian agama Islam, yang malamnya sepertiRasulullah siangnya dan tidak ada seorangpun dari mereka yang menyimpang, melainkan akan binasa seumur hidup jika tidak segera bertaubat kepada Allah.


Manhaj Salaf Cerminan Kemurnian Islam

Rentang waktu yang panjang sangat memungkinkan menyebabkan jauhnya umat dari kemurnian ajaran Islam. Apalagi, umat ini terus berganti generasi demi generasi. Hal ini telah dirasakan dan disaksikan oleh orang-orang yang diberikan bashirah (ilmu) oleh Allah. Banyak kita jumpai penampilan Islam yang berwarna-warni, baik dari amalan, ucapan, dan keyakinan.

“Warna-warni” inilah yang sering menimbulkan friksi di antara sesama muslim hingga berujung pada pudarnya persatuan dan kesatuan umat Islam. Walhasil, umat ini menjadi sangat lemah dan siap menjadi santapan musuh-musuhnya.

Munculnya kelompok-kelompok di dalam Islam, merupakan bukti konkrit adanya perbedaan yang besar dan warna-warninya penampilan Islam itu. Yang satu berpakaian serba merah dan mengangkat Islam sebagai simbol. Yang lain dengan warna hijau, hitam, kuning, putih, dan sebagainya. Masing-masing memiliki konsep, prinsip, jalan, dan tujuan yang berbeda dengan yang lainnya. Bahkan, karena perbedaan mendasar itu, ada yang siap menumpahkan darah yang lainnya. Apakah demikian Islam itu? Lalu manakah yang benar? Dan manakah yang harus diikuti?

Yang demikian ini, setelah berlalunya masa risalah (masa kenabian) dan pergantian generasi demi generasi, sangat terasa. Ironisnya, Islam dalam pandangan kaum muslimin saat ini hanya sebatas “yang penting Islam”, apapun alirannya, ajarannya, warnanya, jalannya, baunya, dan sebagainya. Padahal justru dengan sebab ini, hilanglah kemuliaan, kewibawaan, kejayaan, dan kekuatan umat Islam. Serta menjadikan musuh-musuh Islam berani dan memiliki kewibawaan di mata kaum muslimin.

Kemurnian dan kesempurnaan Islam itu pun kian jauh panggang dari api. Yang satu ingin menambah dan yang lain ingin mengurangi, bahkan mempretelinya. Hanya dengan mencari sumber kemurniannya kepada orang yang telah dinobatkan oleh Allah -para shahabat, tabi’in dan tabi’ut sebagai penelusur jejak Rasulullah tabi’in- saja, niscaya kemurnian Islam itu akan diperoleh.

Manhaj Salaf adalah Ridha, Cinta, dan Ampunan Allah

Selain sebagai cermin kemurnian Islam, manhaj salaf juga merupakan perwujudan ridha Allah, cinta, dan ampunan-Nya. Allah berfirman tentang mereka yang berjalan di atas manhaj salaf ini:
وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah: 100)

As Sa’dy1 dalam tafsir ayat ini mengatakan, mereka adalah orang-orang yang lebih dahulu masuk Islam dan yang terlebih dahulu dalam keimanan, hijrah, jihad, dan memperjuangkan agama Allah. Kaum Muhajirin, adalah orang-orang yang dikeluarkan dari negeri mereka dan dipisahkan dari harta benda mereka, semata-mata hanya mencari keutamaan dari Allah dan keridhaan-Nya. Mereka membela agama Allah dan Rasul-Nya, dan mereka adalah orang-orang yang jujur.

Sementara kaum Anshar, adalah orang-orang yang menetap di kota Madinah, mencintai orang-orang yang berhijrah. Mereka tidak dihinggapi perasaan berat hati atas apa-apa yang mereka infakkan kepada kaum Muhajirin, serta mengutamakan kaum Muhajirin meskipun mereka membutuhkannya.
Merekalah kaum yang mendapatkan keselamatan dari cercaan dan mendapatkan pujian dan keutamaan dari Allah. Allah meridhai mereka dan mereka ridha kepada Allah. Allah mempersiapkan bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan kekal di dalamnya.

di dalam Al Qur’anAllah berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali-Imran: 31)

As Sa’dy dalam tafsirnya mengatakan: “Ayat ini merupakan tolok ukur cinta seseorang kepada Allah dengan sebenar-benarnya cinta atau hanya pura-pura mengaku cinta. Tanda cinta kepada Allah Adalah ittiba’ , yang (mengikuti) Rasulullah telah menjadikan sikap ini Allah (ittiba’) dan segala apa yang . Dan tidak diserukan sebagai jalan untuk mendapatkan cinta dan ridha Allah , ridha dan pahala-Nya, melainkan denganakan didapati kecintaan dari Allah sebagaimana yang ada di dalam Al-qur’an membenarkan apa yang dibawa Rasulullah Qur’an dan As Sunnah, dengan cara melaksanakan apa yang dikandung keduanya, dan menjauhi apa yang dilarangnya. Maka barangsiapa melakukan hal ini, sungguh ia, dibalas sebagaimana balasan terhadap kekasih Allahtelah dicintai oleh Allah, diampuni dosanya, dan ditutupi segala aibnya. Maka (ayat ini) seakan-akan dan bagaimana sifatnya.”(menjelaskan) bagaimana hakekat mengikuti Rasulullah

Simbol Kemenangan dan Kejayaan Umat

Meskipun Islam semakin kabur, namun pewaris kemurnian Islam akan tetap ada sepanjang kehidupan untukmanusia ini sampai hari kiamat. Mereka telah dipersiapkan oleh Allah dan generasi beliau yang terbaik. Merekalahmeneruskan perjuangan Rasulullah yang akan terus menyuarakan kemurnian Islam. Dan bersama merekalah kemenangan yang tidak bisa dipungkiri.dan kejayaannya. Itulah janji Allah

sebagai generasi pejuang yang telahMerekalah yang disebut Rasulullah yang diwariskan setelah wafatnya, untukmengambil pedang perjuangan Rasulullah . Dan merekamembabat gerakan-gerakan penjegalan terhadap syariat Allah sebagai perisai dan benteng terhadap kebenaranpulalah yang dipersiapkan Allah menjelaskan di dalam Aldalam pertarungan antara yang hak dan batil. Allah Qur’an:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Al-Hijr: 9)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin di dalam kitab Syarah Aqidah Wasithiyyah hal. 25 mengatakan, “Akan tetapi semua pujian bagi Allah semata. Tiadalah seseorang membangkitkan -dengan nikmat dan melakukan kebid’ahan, melainkan Allah karunia-Nya- orang-orang yang akan menjelaskan kebid’ahan tersebut dan yang akan melumatkannya dengan kebenaran. Dan ini termasuk dari makna yang terkandung dalam firman Allah (Al-Hijr: 9). Dan ini merupakan wujud nyata penjagaan Allah terhadap “Ad Dzikr” (maksudnya Al Qur’an, red) dan ini .” juga merupakan tuntutan hikmah Allah

bersabda dalam Rasulullah hadits yang diriwayatkan Imam Al Bukhari dan Muslim dari shahabat Mua’wiyah dan Mughirah bin Syu’bah dan diriwayatkan Imam Muslim dari shahabat Tsauban, Jabir bin Samurah, Jabir bin Abdillah, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiallahu ‘anhum:
“Terus menerus ada sekelompok kecil dari umatku memperjuangkan kebenaran. Tidak akan memudharatkan mereka orang-orang yang berusaha menghinakan mereka sampai datang keputusan Allah dan mereka tetap dalam keadaan yang demikian itu.” (Shahih, HR. Muslim dengan lafadznya)

Siapakah yang dimaksud oleh Rasulullah “satu kelompok dari umatnya itu yang selalu memperjuangkan kebenaran dan selalu mendapatkan kemenangan?”
Imam Ahmad mengatakan: “ Kalau bukan ahli hadits yang dimaksud, maka saya tidak mengetahui (lagi) siapa mereka”.

Umar bin Hafsh bin Ghiyats mengatakan: “Aku telah mendengar ayahku ketika ditanyakan kepadanya: ‘Tidakkah kamu melihat ahlul hadits dan apa-apa yang mereka berada di atasnya?’ Dia menjawab: ‘Mereka adalah sebaik-baik penduduk dunia’.”

Abu Bakar bin ‘Ayyash mengatakan, “Aku berharap bahwa ahlul hadits adalah sebaik-baik manusia.” (Lihat kitab Makanatu Ahlil Hadits hal 53-54).
Rasulullah bersabda: “Tidak ada seorangpun dari nabi yang diutus sebelumku kepada suatu umat melainkan ada pada umatnya hawariyyun (para pembela) dan shahabatnya yang memegang sunnahnya dan yang mengikuti perintahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim dari shahabat Abdullah bin Mas’ud)

Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah akan membangkitkan pada setiap awal seratus tahun orang-orang yang akan mengadakan pembaharuan terhadap agama umat ini.” (Shahih, HR. Abu Daud dari shahabat Abu Hurairah dan dishahihkan Syaikh Al Albany dalam kitab “Shahih Sunan Abu Daud no. 3656” dan di dalam kitab “Silsilah Hadits Shahih no. 599” dan di dalam kitab “Shahih Jami’us Shaghir no. 1874”).

Imam Ahmad bin Hanbal berkata, sebagaimana dinukil Imam Dzahabi dalam kitab As Siar akan10/46: “Sesungguhnya Allah membangkitkan pada umat di awal setiap seratus tahun orang-orang yang akan mengajarkan mereka sunnah dan membungkam setiap kedustaan atas nama Rasulullah . Maka tatkala kami melihat dan memeriksa, ternyata pada awal seratus tahun pertama muncul Umar bin Abdul Aziz dan pada seratus tahun kedua Imam Syafi’i.” (Lihat Silsilah Hadits Shahih 2/148)

Manhaj Salaf Manhaj yang Benar

Manhaj inilah yang mendapatkan pujian kebaikan dari lisan Rasulullah berikut dengan orang-orang yang berjalan di atasnya, sebagaimana sabda beliau:
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang setelah mereka, dan kemudian orang-orang setelah mereka.” (Shahih, HR. Bukhari dan Muslim dari shahabat Imran bin Husein dan Abdullah bin Mas’ud)

Maka, para pengikut manhaj ini adalah generasi terbaik yang diridhai oleh Allah. Di dalam kitab Manhajus Salaf Fit Ta’amul Ma’a Kutubi Ahlil Bida’i hal. 3 karya Abu Ibrahim Muhammad bin Muhammad bin Abdillah bin Mani’ dikatakan: “Pujian kebaikan menunjukkan kebenaran akidah, tidak akan mencukupkan mereka.”mengikuti Rasulullah Wallahu A’lam.

Sumber Bacaan:
1. Al Qur’an
2. Riyadhus Shalihin - Imam An Nawawi
3. Taisir Karimir Rahman - Syaikh As-Sa’dy
4. Syarah Aqidah Wasithiyyah - Syaikh Utsaimin
5. Silsilah Hadits Shahih - Syaikh Al Albani
6. Makanatu Ahlil Hadits - Syaikh Dr.Rabi’
7. Manhajus salaf Fitta’amul Ma’a kutubi Ahlil Bida’i - Muhammad bin Mani’


MANHAJ (JALAN) GOLONGAN YANG SELAMAT


1. Golongan Yang Selamat ialah golongan yang setia mengikuti manhaj Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hidupnya, serta manhaj para Shahabat sesudahnya.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
“Aku tinggalkan padamu dua perkara yang kalian tidak akan tersesat apabila (berpegang teguh) kepadanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku. Tidak akan bercerai berai sehingga keduanya menghantarku ke telaga (Surga).” (Dishahihkan Al-Albani dalam kitab Shahihul Jami’)
2. Golongan Yang Selamat akan kembali (merujuk) kepada Kalamullah dan Rasul-Nya tatkala terjadi perselisihan dan pertentangan diantara mereka, sebagai realisasi firman Allah :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا

“Kemudian jika kamu berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An-Nisa’ : 59)
فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisa’ : 65)
3. Golongan Yang Selamat tidak mendahulukan perkataan seseorang atas Kalamullah dan Rasul-Nya, realisasi dari firman Allah :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Hujurat : 1)
Ibnu Abbas berkata :
“Aku khawatir akan jatuh batu dari langit (mereka akan binasa). Aku katakan, ”Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, sedang mereka (membantah) dengan mengatakan, “Abu Bakar dan Umar berkata.” (HR. Ahmad dan Ibnu Abdil Barr)
4. Golongan Yang Selamat senantiasa menjaga kemurnian tauhid. (Silahkan baca buku yang sangat bagus tentang masalah Tauhid dengan judul “Kitab Tauhid” karya Syaikh Muhammad At-Tamimi, yang mengupas tentang keagungan kedudukan tauhid serta menerangkan berbagai macam syirik yang sangat berbahaya,ed).
5. Golongan Yang Selamat senang menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah, baik dalam ibadah, perilaku dan dalam segenap hidupnya, karena itu mereka menjadi orang-orang asing di tengah kaumnya, sebagaimana disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam :
“Sesungguhnya Islam pada permulaannya adalah asing dan akan kembali menjadi asing seperti pada permulaannya. Maka keuntungan besar bagi orang-orang yang asing.” (HR. Muslim)
Dalam riwayat lain disebutkan,
“Dan keuntungan besar bagi orang-orang yang asing. Yaitu orang-orang yang (tetap) berbuat baik ketika manusia sudah rusak.” (Al-Albani berkata,”Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Amr Ad-Dani dengan sanad Shahih.”)
6. Golongan Yang Selamat tidak berpegang kecuali kepada Kalamullah dan Kalam Rasul-Nya yang ma’sum, yang berbicara dengan tidak mengikuti hawa nafsu. Adapun manusia selainnya, betapapun tinggi derajatnya, terkadang ia melakukan kesalahan, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam :
“Setiap bani adam (pernah) melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang bertaubat.” (Hadits Hasan riwayat Imam Ahmad)
Imam Malik berkata, ”Tak seorang pun sesudah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melainkan ucapannya diambil atau ditinggalkan (ditolak) kecuali Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (yang ucapannya selalu diambil dan diterima).”
7. Golongan Yang Selamat adalah para ahli hadits. Tentang mereka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
“Senantiasa ada segolongan dari ummatku yang memperjuangkan kebenaran, tidak membahayakan mereka orang yang menghinakan mereka sehingga datang keputusan Allah.” (HR. Muslim)
8. Golongan Yang Selamat menghormati para imam mujtahidin, tidak fanatik terhadap salah seorang diantara mereka. Golongan Yang Selamat mengambil fiqih (pemahaman hukum-hukum Islam) dari Al-Qur’an, hadits-hadits yang shahih, dan pendapat-pendapat imam mujtahidin yang sejalan dengan hadits shahih. (Lihat perkataan para Imam Madzhab pada muqaddimah kitab Sifat Shalat Nabi, karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, yang mereka bersepakat agar meninggalkan perkataan mereka bila tidak sesuai dengan hadits shahih, ed.)
9. Golongan Yang Selamat menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Mereka melarang segala jalan bid’ah (perkara yang diada-adakan dalam agama) dan sekte-sekte yang menghancurkan dan memecah belah ummat. Baik bid’ah dalam hal agama maupun dalam hal sunnah Rasul dan para shahabatnya.
10. Golongan Yang Selamat mengajak seluruh ummat Islam agar berpegang teguh kepada sunnah Rasul dan para shahabatnya, sehingga mereka mendapatkan pertolongan dan masuk surga atas anugerah Allah dan syafa’at Rasulullah –dengan izin Allah-.
11. Golongan Yang Selamat mengingkari perundang-undangan yang dibuat oleh manusia, sebab undang-undang tersebut bertentangan dengan ajaran Islam. Golongan Yang Selamat mengajak manusia berhukum kepada Kitabullah yang diturunkan Allah untuk kebahagiaan manusia di dunia dan di akhirat. Allah Maha Mengetahui sesuatu yang lebih baik bagi mereka. Hukum-hukumnya abadi sepanjang masa, cocok dan relevan bagi penghuni bumi sepanjang zaman.
12. Golongan Yang Selamat mengajak seluruh ummat Islam berjihad di jalan Allah. Jihad adalah wajib bagi setiap muslim sesuai dengan kekuatan dan kemampuannya. Jihad dapat dilakukan dengan :
1. Jihad dengan lisan dan tulisan
Mengajak ummat Islam dan ummat lainnya agar berpegang teguh dengan ajaran Islam yang shahih, tauhid yang murni dan bersih dari syirik yang ternyata banyak terdapat di negara-negara Islam. Rasulullah Shallallahu ‘Aliahi wa Sallam telah memberitakan tentang hal yang akan menimpa ummat Islam ini.
Beliau bersabda :
“Hari kiamat belum akan tiba, sehingga kelompok-kelompok dari ummatku mengikuti orang-orang musyrik dan sehingga kelompok-kelompok dari ummatku menyembah berhala-berhala.” (Hadits shahih, riwayat Abu Dawud, hadits yang semakna ada dalam riwayat Muslim)
2. Jihad dengan harta
Menginfaqkan harta buat penyebaran dan perluasan ajaran Islam, mencetak buku-buku da’wah ke jalan yang benar, memberikan santunan kepada ummat Islam yang masih lemah iman agar tetap memeluk agama Islam, memproduksi dan membeli senjata-senjata dan peralatan perang, memberikan bekal kepada mujahidin, baik berupa makanan, pakaian atau keperluan lain yang dibutuhkan.
3. Jihad dengan jiwa
Bertempur dan ikut berpartisipasi di medan peperangan untuk kemenangan Islam. Agar kalimat Allah (Laa ilaha illallahu) tetap jaya sedang kalimat orang-orang kafir (syirik) menjadi hina.
Dalam hubungannya dengan ketiga perincian jihad diatas, Rasulullah Shallallahu ‘Alihi wa Sallam mengisyaratkan dalam sabdanya :
“Perangilah orang-orang musyrik itu dengan harta, jiwa dan lisanmu.” (HR Abu Dawud, hadits Shahih).

(Disadur dengan beberapa ringkasan dari kitab Manhaj Al-Firqatun Naajiah (Jalan Golongan Yang Selamat), karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu.

Semoga kita semua dapat mengambil manfaat dari tulisan ini. Amin
“Meniti Jejak salafus sholeh”
(Para Sahabat Nabi, Tabi’in, dan Tabi’ut Tabi’in)



Sedikit Di Atas Sunnah Lebih Baik Daripada Banyak Di Atas Bid’ah
Oleh : Al Ustadz Muhammad Umar As Sewwed
[ Majalah Islami Salafy Edisi VII ]

Bahaya ifrath (ghuluw). Ifrath adalah sikap ghuluw yaitu berlebih-lebihan dalam beramal dan melampaui batas-batas sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sampai tercebur ke dalam berbagai macam bid’ah yang sama sekali tidak terdapat dalam Al-Qur’an, tidak tersebut dalam As-Sunnah dan tidak pula dikenal oleh para shahabat radlyiallahu ‘anhum. Dan orang yang beramal dengan sikap ifrath ini, mereka mengerjakannya dalam keadaan yakin bahkan sangat yakin bahwa hal ini adalah taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah. Maka bagaimana kiranya mereka akan bertaubat???
Dalam riwayat yang shahih Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Sesungguhnya Allah menghalangi taubat setiap pelaku kebid’ahan.” (HR. Baihaqi, Thabrani, dan lain-lain)
Karena hadits ini mungkin baru bagi kita maka perlu kiranya kita perhatikan keterangan Syaikh Al-Albani tentang keshahihannya. Beliau berkata : “Sanad (hadits) ini shahih. Dan para perawinya terpercaya (tsiqah) termasuk para perawi (yang dipakai) oleh dua syaikh (Bukhari dan Muslim), kecuali Harun bin Musa, yaitu Al-Farawi. Berkata An-Nasai dan diikuti oleh Al-Hafidz (Ibnu Hajar) dalam At-Taqrib : 'Dia tidak mengapa (la ba’sa bihi).' Berkata Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid 10/189 : 'Diriwayatkan oleh Thabrani dalam Al-Ausath dan para perawinya termasuk perawi kitab shahiha’in (Bukhari Muslim), selain Harun bin Musa Al-Farawi. Tetapi diapun tsiqah.' Berkata Al-Mundziri dalam At-Targhib 1/45 : 'Diriwayatkan oleh Thabrani dengan sanad HASAN.' " (Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah oleh Syaikh Al-Albani jilid 4 hal. 154 hadits no. 1620)
Demikianlah bahaya bid’ah yang kebanyakan disebabkan oleh sikap ghuluw. Allah akan menjauhkan dan menghalangi pelakunya dari taubat. Dan inilah yang menyebabkan para ulama menyatakan bahwa pelaku bid’ah tidak akan berpindah, kecuali kepada yang lebih jelek daripadanya sebagaimana dinukil oleh Imam As-Syathibi dalam Al-I’tisham diantaranya :
Dari Yahya bin Abi Amr Asy-Syaibani bahwa dia berkata : "Bahwasanya dikatakan : 'Allah enggan dengan taubat setiap pelaku bid’ah dan tidaklah berpindah pelaku bid’ah kecuali kepada bid’ah yang lebih jelek.' "
Dan yang seperti itu dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu bahwa dia berkata :
“Tidaklah seseorang berada di atas suatu pendapat dari kebid’ahan kemudian meninggalkannya, kecuali berpindah kepada yang lebih jelek dari itu.”
Juga dari Ibnu Syaudzab dia berkata : “Aku mendengar Abdullah Ibnul Qasim berkata : Tidaklah seorang hamba berada di atas Al-Hawa (kemudian) meninggalkannya, kecuali berpindah kepada sesuatu yang lebih jelek daripadanya. (Atsar-atsar di atas dinukil dari kitab Al-I’tisham oleh Imam Asy-Syathibi 1/12-163 dengan tahqiq Syaikh Salim Al-Hilali)
Demikianlah keadaan Ahli Bid’ah yang menambah-nambah Dien ini dengan syariat-syariat baru, aturan ibadah baru, penilaian baru, anggapan baru, keyakinan baru, cara berdakwah baru, dan perkara baru yang lain yang tidak pernah dikenal oleh para shahabat, tabi’in maupun tabiut tabi’in. Memang bisa jadi mereka berniat baik, tetapi melampaui batas dan berlebih-lebihan hingga keluar dari sunnah. Inilah ghuluw.
Kalau seseorang sudah menganggap baik (istihsan) perkara-perkara yang muhdats (bid’ah), sungguh sangat tipis harapan untuk bertaubat. Berkata Imam As-Syatibi setelah menukil atsar dan hadits di atas : “… jika seorang pelaku bid’ah keluar darinya (ruju’) maka sesungguhnya dia keluar kepada yang lebih jelek daripadanya sebagaimana dalam hadits Ayyub. Atau dia termasuk yang menampakkan seakan-akan rujuk padahal setelah itu dia tetap berada di atas kebid’ahan tersebut seperti kisah Ghailan bersama Umar bin Abdul Aziz." (Al-I’tisham 1/163)
Yang dimaksud dengan hadits Ayyub adalah sebagai berikut : Dari Ayyub dia berkata :
“Ada seseorang berpendapat dengan suatu pendapat (yang bid’ah, pent) kemudian rujuk, maka aku mendatangi Muhammad dengan gembira karena itu, untuk mengabarkan kepadanya. Aku mengatakan : 'Tidakkah engkau merasa senang bahwa si fulan telah meninggalkan pendapatnya yang pernah diucapkannya?' Maka dia berpendapat : 'Lihatlah ke mana dia berpindah? Sesungguhnya akhir hadits lebih dahsyat dari awal hadits atas mereka : Mereka keluar dari Dien … kemudian tidak akan kembali (kepadanya)." (Al-I’tisham 1/163) (Yang dimaksud adalah hadits tentang khawarij yang diriwayatkan oleh Muslim)
Sedang kisah Ghailan adalah sebagai berikut :
“Diriwayatkan oleh Amru bin Muhajir : Sampai berita kepada Umar bin Abdul Aziz bahwa Ghailan Al-Qadari berbicara tentang taqdir. Maka beliau mengutus seseorang kepadanya dan memenjarakannya beberapa hari. Kemudian dia dihadapkan kepada Umar bin Abdul Aziz dan beliau berkata : 'Berita apa yang sampai kepadaku ini tentangmu?' Berkata Amir bin Muhajir (periwayat) : 'Aku isyaratkan kepadanya agar tidak berbicara sesuatupun.' Tetapi dia (Ghalian) berkata : 'Ya! Wahai Amirul Mukminin. Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla berfirman' :
'Bukankah telah datang atas manusia suatu waktu dari masa, sedangkan dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur, yang Kami hendak mengujinya, oleh karena itu Kami menjadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya kepada jalan itu. Ada yang bersyukur, adapula yang kufur.' (Al-Insan : 1-3)
(Maksudnya dia menolak taqdir dengan ayat ini, pent).
Maka berkatalah Umar bin Abdul Aziz : 'Bacalah sampai akhir surat.' [ 'Dan tidaklah kalian berkehendak (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dia memasukkan siapa yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya dan bagi orang-orang yang dhalim disediakan adzab yang pedih.' (Al-Insan:30-31) ]
Kemudian berkata : 'Apa yang akan kamu katakan wahai Ghailan?' Dia menjawab: 'Aku katakan, aku dahulu buta dan engkau telah membuat aku melihat. Aku dahulu tuli dan engkau telah membuat aku mendengar. Dan aku dulunya sesat dan engkau telah menunjukiku.' Maka berkatalah Umar rahimahullah : 'Ya Allah, jika benar hamba-Mu Ghailan jujur, kalau tidak saliblah dia.'
Setelah itu Ghailan berhenti dari ucapannya tentang taqdir hingga meninggallah Umar bin Abdul Aziz rahimahullah. Kemudian khilafah berpindah ke tangan Hisyam rahimahullah. Maka mulailah Ghailan berbicara tentang taqdir. Kemudian Hisyam mengutus seseorang kepadanya dan memotong tangannya. Ketika itu lewatlah seseorang sedangkan lalat hinggap di tangan Ghailan maka berkatalah dia : 'Wahai Ghailan! Ini adalah qadla dan qadhar (takdir)!' Dia berkata : 'Engkau berdusta, demi Allah! Ini bukanlah qadla dan qadar.' Ketika Hisyam mendengarnya dia mengutus kembali utusannya dan menyalibnya." (Dinukil secara makna dari Al-I’tisham 1/85-86)
Demikianlah para pelaku bid’ah, jauh dari taubat dan berakhir dengan su’ul khotimah. Wal’iyadzubillah.
Kiranya cukup yang demikian bagi kita untuk berhati-hati dari bid’ah dan beramal dengan sunnah.
Berkata para Salafussholih : Sederhana dalam sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh (tetapi) dalam bid’ah.

Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid berkata : “Kalimat emas ini telah shahih riwayatnya dari shahabat, tidak hanya seorang. Seperti diantaranya Abu Darda dan Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhuma. Sebagaimana dalam kitab Syarah Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah wal Jama’ah hal. 114-115, Kitab As-Sunnah oleh Ibnu Nashr hal.27-28 dan Kitab Al-Ibanah oleh Ibnu Baththah 1/320 dan lain-lain.” (Lihat Ilmu Ushulil Bida’ oleh Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid hal. 55)
Demikianlah kalimat yang memberikan manhaj besar bagi seorang Muslim. Dalam amalan dan ucapannya agar selamat dari ghuluw dan diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima amalan yang paling baik bukan yang paling banyak. Sedangkan yang paling baik adalah yang paling cocok dengan sunnah. Allah berfirman :
"Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian siapa yang terbaik amalannya." (Al-Mulk : 2)
Fudlail bin Iyadl berkata : “Yang paling baik amalnya adalah yang paling ikhlas dan paling benar (cocok dengan sunnah, pent).”
Diriwayatkan pula dari Ubay bin Ka’ab radhiallahu ‘anhu bahwa dia berkata : “Sesungguhnya sederhana di atas jalan dan sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam menyelisihi jalan dan sunnah, maka lihatlah jika amal kalian sederhana atau sungguh-sungguh hendaklah berada di atas manhaj para nabi dan sunnah mereka shalallahu ‘alaihi wa sallam.” (Al-Lalika’i dalam Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah 1/54 no. 10)
Dengan ucapan beliau di atas jelas bahwa maksud ucapan para shahabat bukanlah agar kita sedikit mengamalkan sunnah, tapi agar berhati-hati dari sikap ghuluw, yaitu berlebih-lebihan dalam ibadah hingga keluar dari sunnah dan masuk ke dalam berbagai macam bid’ah. Lebih baik sedikit tetapi di atas sunnah daripada beramal dengan bidah-bid’ah walaupun sangat banyak dan besungguh-sungguh. Bahkan tidur dengan cara sunnah lebih baik daripada bangun malam dengan cara bid’ah, sebagaimana dikatakan oleh Abul Ahwash rahimahullah ketika berkata pada dirinya :
Wahai Sallam (nama beliau), tidur di atas sunnah lebih baik daripada engkau bangun di atas bid’ah.
Demikian semoga Allah menjaga kita dari ghuluw dan melampaui batas-batas sunnah dan memberikan taufiq kepada kita dan seluruh kaum Muslimin kepada jalan yang lurus, beramal dengan sunnah dan selamat dari bid’ah. Amin.







Artkel- artikel Islami.
Buat Motivasi untuk Beribadah lebih Baik lagi kepada ALLOH SWT.

ANJURAN UNTUK BERPEGANG TEGUH DENGAN AS-SUNNAH

Sunnah merupakan perisai bagi yang mengenakannya dan jalan yang penuh air bagi yang menempuhnya. Baju besinya terasa lembut dipakai, naungannya rimbun dan penjelasannya sangat mencukupi serta bukti-buktinya pasti.
Dan sunnah itu menjamin keistiqomahan, keselamatan dan merupakan satu-satunya tangga yang dapat mengantarkan kepada tingkatan tertinggi serta sarana yang memadai untuk bergabung dengan golongan mulia.
Orang yang menjaga sunnah pasti terjaga dan orang yang memperhatikannya pasti diperhatikan. Barangsiapa yang mengikuti sunnah pasti berada di atas jalan yang lurus. Dan barangsiapa yang mengambil petunjuk dengan ilmu-ilmunya, berarti dia sedang menuju kedudukan yang penuh kenikmatan abadi.
Sungguh, telah banyak nash syari'at dan perkataan shahabat serta tabi'in yang mengandung motivasi dan anjuran untuk mencintai dan memegang teguh sunnah.
Dari Al-Kitab tercantum firman Allah Ta'ala: "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap perjumpaan dengan Allah dan hari akhirat dan dia banyak menyebut Allah." (Al-Ahzab:21).
Firman-Nya yang lain: "Katakanlah: 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian.' Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Ali 'Imran:31).
Allah juga berfirman: "Jika kalian mentaatinya (Nabi) pasti kalian mendapat petunjuk." (An-Nur:54). "Dan ikutilah ia agar kalian mendapat petunjuk." (Al-A'raf:158).
Sedangkan dalam As-Sunnah adalah yang telah diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam Shahihnya, dari Jabir bin 'Abdillah, ia berkata: "Adalah Rasulullah jika sedang berkhuthbah, memerah kedua matanya, tinggi suaranya dan memuncak kemarahannya seakan-akan ia seperti pemberi peringatan sebuah pasukan yang mengatakan: waspadalah kalian di waktu pagi dan sore….Dan beliau mengatakan, 'Amma ba'du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam, sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan dan setiap bid'ah adalah sesat.'"
Dalam hadits yang lain Rasulullah bersabda: "Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah dan mendengar serta taat, walaupun yang memimpin kalian seorang budak Habasyi, sesungguhnya barangsiapa yang hidup di suatu jaman nanti akan menjumpai perselisihan yang sangat banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Al-Khulafa` ar-Rasyidin yang telah mendapat petunjuk, gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham, serta waspadalah kalian dari perkara-perkara yang diada-adakan, karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah sesat." (Hadits riwayat Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah, berkata At-Tirmidzi: Hadits hasan shahih).
Diriwayatkan dari Abu Dzarr, ia berkata: "Sesungguhnya Rasulullah telah meninggalkan kita dan tidaklah seekor burung menggerakkan sayap-sayapnya di langit, kecuali beliau telah menyebutkan ilmunya untuk kita." (Diriwayakan oleh Al-Imam Ahmad dan Ath-Thabrani dan ia menambahkan: Bersabda Rasulullah: "Tidak tersisa satupun perkara yang bisa mendekatkan ke surga dan menjauhkan dari neraka kecuali telah dijelaskan kepada kalian.").
Adapun perkataan shahabat dan tabi'in serta 'ulama dalam memberi anjuran untuk berpegang teguh dengan sunnah sangatlah banyak, di antaranya:
Dari Yunus bin Yazid dari Az-Zuhri, dia berkata: "Dahulu 'ulama kami mengatakan: "Berpegang teguh dengan sunnah adalah keselamatan." (Sunan Ad-Darimi I/44).
Dari Hisyam bin 'Urwah, dari bapaknya dia berkata: "Perhatikan sunnah, perhatikan sunnah, karena sesungguhnya sunnah itu adalah tonggak agama." (Al-Marwazi dalam As-Sunnah hal. 29).
Wallaahu a'lamu bishshawaab.

JALAN SALAF JAMINAN KEBENARAN
Ahad, 29 Juni 2003 - 14:51:28, Penulis : Al-Ustadz Abu Usamah bin Rawiyah an Nawawi
Kategori : Manhaji

Kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah” telah menjadi slogan umum. Namun memahami keduanya dan mengamalkan kandungannya, agar sesuai dengan yang dimaukan , merupakan persoalan tersendiri. Kepada siapa kita harus merujuk?
Pada edisi sebelumnya telah dijelaskan, siapakah yang dimaksud dengan Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan manhaj (jalan/metode) yang mereka tempuh. Mereka bukanlah manusia khusus yang diciptakan oleh Allah untuk membawa amanat syariat-Nya. Juga bukan malaikat yang diutus oleh Allah untuk mengajarkan manusia tentang agama-Nya. Mereka adalah kaum muslimin itu sendiri yang memahami agamanya dengan benar berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah di atas pemahaman salafus shalih (pendahulu yang shalih).

Mereka (para shahabat ridhwanullah ‘alaihim ajma’in) adalah umat terbaik yang diciptakan untuk mendakwahkan kebenaran agama ini kepada seluruh umat. Mereka adalah generasi terbaik umat ini dari kalangan shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in, serta orang-orang yang mengikuti mereka di atas kebenaran. Mereka adalah salafus shalih, firqatun najiyah (orang-orang yang selamat), thaifah al manshurah (orang-orang yang selalu ditolong), ahlul hadits, ahlul atsar, dan mereka adalah salafiyyun.

Mereka adalah pilihan Allah dari segenap hamba-Nya yang akan menyuarakan kebenaran di mana saja dan kapan saja, bagaimanapun besar tantangan dan rintangan yang dihadapi. Slogan mereka adalah firman Allah:

الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

“Kebenaran itu datang dari Rabbmu, maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang-orang yang ragu.” (Al- Baqarah: 147)

:Juga sabda Rasulullah “Katakan yang benar walaupun pahit dan jangan kamu gentar cercaan orang yang mencerca.” ( HR. Al Baihaqi dalam Kitab Syu’abul Iman dari shahabat Abu Dzar. Lihat Al Misykat 3/ 1365)

Dari sinilah nama salafus shalih diabadikan oleh sejarah. Ditulis dengan tinta emas, terus dikenang, serta menjadi rujukan generasi sesudahnya. Bukankah ini merupakan satu kemuliaan dari Allah karena apa yang telah mereka berikan untuk agama-Nya? Dan karena apa yang mereka tempuh ketika Rasulullah masih hidup dan setelah wafat beliau?

Jawabannya adalah ya. Mereka mendapatkan yang demikian ini karena mereka berjalan di atas jalan Rasul-Nya. sebagai pemimpin Abu Bakar, khalifah pertama yang menggantikan Rasulullah umat ini, telah mendapatkan jaminan masuk surga, padahal ketika itu beliau masih hidup. Bukankah ini kemuliaan bagi beliau? Apakah manhajnya Abu Bakar sesuai manhajnya Rasulullah? Jawabannya tentu ya.

Begitu juga Umar, Utsman, Ali, dan para shahabat yang lain yang telah mendapatkan jaminan dari Rasulullah untuk masuk surga, padahal kaki-kaki mereka masih menapaki kehidupan. Merekalah yang juga disebutkan oleh Allah di dalam Al Qur’an:
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا
“Merekalah orang-orang yang telah diberikan nikmat oleh Allah dari kalangan para nabi, orang-orang yang jujur, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih”. (An-Nisaa’: 69)
Siapa lagi yang dimaksud dalam ayat ini setelah para nabi, kalau bukan orang-orang yang mengikuti mereka di atas manhaj Allah dari kalangan shahabat?

Mereka adalah generasi yang berusaha untuk mendapatkan dan . Duduk dan keluar dari majelismengambil warisan terbanyak dari Rasulullah dalam keadaan membawa kemurnian agama Islam, yang malamnya sepertiRasulullah siangnya dan tidak ada seorangpun dari mereka yang menyimpang, melainkan akan binasa seumur hidup jika tidak segera bertaubat kepada Allah.


Manhaj Salaf Cerminan Kemurnian Islam

Rentang waktu yang panjang sangat memungkinkan menyebabkan jauhnya umat dari kemurnian ajaran Islam. Apalagi, umat ini terus berganti generasi demi generasi. Hal ini telah dirasakan dan disaksikan oleh orang-orang yang diberikan bashirah (ilmu) oleh Allah. Banyak kita jumpai penampilan Islam yang berwarna-warni, baik dari amalan, ucapan, dan keyakinan.

“Warna-warni” inilah yang sering menimbulkan friksi di antara sesama muslim hingga berujung pada pudarnya persatuan dan kesatuan umat Islam. Walhasil, umat ini menjadi sangat lemah dan siap menjadi santapan musuh-musuhnya.

Munculnya kelompok-kelompok di dalam Islam, merupakan bukti konkrit adanya perbedaan yang besar dan warna-warninya penampilan Islam itu. Yang satu berpakaian serba merah dan mengangkat Islam sebagai simbol. Yang lain dengan warna hijau, hitam, kuning, putih, dan sebagainya. Masing-masing memiliki konsep, prinsip, jalan, dan tujuan yang berbeda dengan yang lainnya. Bahkan, karena perbedaan mendasar itu, ada yang siap menumpahkan darah yang lainnya. Apakah demikian Islam itu? Lalu manakah yang benar? Dan manakah yang harus diikuti?

Yang demikian ini, setelah berlalunya masa risalah (masa kenabian) dan pergantian generasi demi generasi, sangat terasa. Ironisnya, Islam dalam pandangan kaum muslimin saat ini hanya sebatas “yang penting Islam”, apapun alirannya, ajarannya, warnanya, jalannya, baunya, dan sebagainya. Padahal justru dengan sebab ini, hilanglah kemuliaan, kewibawaan, kejayaan, dan kekuatan umat Islam. Serta menjadikan musuh-musuh Islam berani dan memiliki kewibawaan di mata kaum muslimin.

Kemurnian dan kesempurnaan Islam itu pun kian jauh panggang dari api. Yang satu ingin menambah dan yang lain ingin mengurangi, bahkan mempretelinya. Hanya dengan mencari sumber kemurniannya kepada orang yang telah dinobatkan oleh Allah -para shahabat, tabi’in dan tabi’ut sebagai penelusur jejak Rasulullah tabi’in- saja, niscaya kemurnian Islam itu akan diperoleh.

Manhaj Salaf adalah Ridha, Cinta, dan Ampunan Allah

Selain sebagai cermin kemurnian Islam, manhaj salaf juga merupakan perwujudan ridha Allah, cinta, dan ampunan-Nya. Allah berfirman tentang mereka yang berjalan di atas manhaj salaf ini:
وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah: 100)

As Sa’dy1 dalam tafsir ayat ini mengatakan, mereka adalah orang-orang yang lebih dahulu masuk Islam dan yang terlebih dahulu dalam keimanan, hijrah, jihad, dan memperjuangkan agama Allah. Kaum Muhajirin, adalah orang-orang yang dikeluarkan dari negeri mereka dan dipisahkan dari harta benda mereka, semata-mata hanya mencari keutamaan dari Allah dan keridhaan-Nya. Mereka membela agama Allah dan Rasul-Nya, dan mereka adalah orang-orang yang jujur.

Sementara kaum Anshar, adalah orang-orang yang menetap di kota Madinah, mencintai orang-orang yang berhijrah. Mereka tidak dihinggapi perasaan berat hati atas apa-apa yang mereka infakkan kepada kaum Muhajirin, serta mengutamakan kaum Muhajirin meskipun mereka membutuhkannya.
Merekalah kaum yang mendapatkan keselamatan dari cercaan dan mendapatkan pujian dan keutamaan dari Allah. Allah meridhai mereka dan mereka ridha kepada Allah. Allah mempersiapkan bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan kekal di dalamnya.

di dalam Al Qur’anAllah berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali-Imran: 31)

As Sa’dy dalam tafsirnya mengatakan: “Ayat ini merupakan tolok ukur cinta seseorang kepada Allah dengan sebenar-benarnya cinta atau hanya pura-pura mengaku cinta. Tanda cinta kepada Allah Adalah ittiba’ , yang (mengikuti) Rasulullah telah menjadikan sikap ini Allah (ittiba’) dan segala apa yang . Dan tidak diserukan sebagai jalan untuk mendapatkan cinta dan ridha Allah , ridha dan pahala-Nya, melainkan denganakan didapati kecintaan dari Allah sebagaimana yang ada di dalam Al-qur’an membenarkan apa yang dibawa Rasulullah Qur’an dan As Sunnah, dengan cara melaksanakan apa yang dikandung keduanya, dan menjauhi apa yang dilarangnya. Maka barangsiapa melakukan hal ini, sungguh ia, dibalas sebagaimana balasan terhadap kekasih Allahtelah dicintai oleh Allah, diampuni dosanya, dan ditutupi segala aibnya. Maka (ayat ini) seakan-akan dan bagaimana sifatnya.”(menjelaskan) bagaimana hakekat mengikuti Rasulullah

Simbol Kemenangan dan Kejayaan Umat

Meskipun Islam semakin kabur, namun pewaris kemurnian Islam akan tetap ada sepanjang kehidupan untukmanusia ini sampai hari kiamat. Mereka telah dipersiapkan oleh Allah dan generasi beliau yang terbaik. Merekalahmeneruskan perjuangan Rasulullah yang akan terus menyuarakan kemurnian Islam. Dan bersama merekalah kemenangan yang tidak bisa dipungkiri.dan kejayaannya. Itulah janji Allah

sebagai generasi pejuang yang telahMerekalah yang disebut Rasulullah yang diwariskan setelah wafatnya, untukmengambil pedang perjuangan Rasulullah . Dan merekamembabat gerakan-gerakan penjegalan terhadap syariat Allah sebagai perisai dan benteng terhadap kebenaranpulalah yang dipersiapkan Allah menjelaskan di dalam Aldalam pertarungan antara yang hak dan batil. Allah Qur’an:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Al-Hijr: 9)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin di dalam kitab Syarah Aqidah Wasithiyyah hal. 25 mengatakan, “Akan tetapi semua pujian bagi Allah semata. Tiadalah seseorang membangkitkan -dengan nikmat dan melakukan kebid’ahan, melainkan Allah karunia-Nya- orang-orang yang akan menjelaskan kebid’ahan tersebut dan yang akan melumatkannya dengan kebenaran. Dan ini termasuk dari makna yang terkandung dalam firman Allah (Al-Hijr: 9). Dan ini merupakan wujud nyata penjagaan Allah terhadap “Ad Dzikr” (maksudnya Al Qur’an, red) dan ini .” juga merupakan tuntutan hikmah Allah

bersabda dalam Rasulullah hadits yang diriwayatkan Imam Al Bukhari dan Muslim dari shahabat Mua’wiyah dan Mughirah bin Syu’bah dan diriwayatkan Imam Muslim dari shahabat Tsauban, Jabir bin Samurah, Jabir bin Abdillah, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiallahu ‘anhum:
“Terus menerus ada sekelompok kecil dari umatku memperjuangkan kebenaran. Tidak akan memudharatkan mereka orang-orang yang berusaha menghinakan mereka sampai datang keputusan Allah dan mereka tetap dalam keadaan yang demikian itu.” (Shahih, HR. Muslim dengan lafadznya)

Siapakah yang dimaksud oleh Rasulullah “satu kelompok dari umatnya itu yang selalu memperjuangkan kebenaran dan selalu mendapatkan kemenangan?”
Imam Ahmad mengatakan: “ Kalau bukan ahli hadits yang dimaksud, maka saya tidak mengetahui (lagi) siapa mereka”.

Umar bin Hafsh bin Ghiyats mengatakan: “Aku telah mendengar ayahku ketika ditanyakan kepadanya: ‘Tidakkah kamu melihat ahlul hadits dan apa-apa yang mereka berada di atasnya?’ Dia menjawab: ‘Mereka adalah sebaik-baik penduduk dunia’.”

Abu Bakar bin ‘Ayyash mengatakan, “Aku berharap bahwa ahlul hadits adalah sebaik-baik manusia.” (Lihat kitab Makanatu Ahlil Hadits hal 53-54).
Rasulullah bersabda: “Tidak ada seorangpun dari nabi yang diutus sebelumku kepada suatu umat melainkan ada pada umatnya hawariyyun (para pembela) dan shahabatnya yang memegang sunnahnya dan yang mengikuti perintahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim dari shahabat Abdullah bin Mas’ud)

Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah akan membangkitkan pada setiap awal seratus tahun orang-orang yang akan mengadakan pembaharuan terhadap agama umat ini.” (Shahih, HR. Abu Daud dari shahabat Abu Hurairah dan dishahihkan Syaikh Al Albany dalam kitab “Shahih Sunan Abu Daud no. 3656” dan di dalam kitab “Silsilah Hadits Shahih no. 599” dan di dalam kitab “Shahih Jami’us Shaghir no. 1874”).

Imam Ahmad bin Hanbal berkata, sebagaimana dinukil Imam Dzahabi dalam kitab As Siar akan10/46: “Sesungguhnya Allah membangkitkan pada umat di awal setiap seratus tahun orang-orang yang akan mengajarkan mereka sunnah dan membungkam setiap kedustaan atas nama Rasulullah . Maka tatkala kami melihat dan memeriksa, ternyata pada awal seratus tahun pertama muncul Umar bin Abdul Aziz dan pada seratus tahun kedua Imam Syafi’i.” (Lihat Silsilah Hadits Shahih 2/148)

Manhaj Salaf Manhaj yang Benar

Manhaj inilah yang mendapatkan pujian kebaikan dari lisan Rasulullah berikut dengan orang-orang yang berjalan di atasnya, sebagaimana sabda beliau:
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang setelah mereka, dan kemudian orang-orang setelah mereka.” (Shahih, HR. Bukhari dan Muslim dari shahabat Imran bin Husein dan Abdullah bin Mas’ud)

Maka, para pengikut manhaj ini adalah generasi terbaik yang diridhai oleh Allah. Di dalam kitab Manhajus Salaf Fit Ta’amul Ma’a Kutubi Ahlil Bida’i hal. 3 karya Abu Ibrahim Muhammad bin Muhammad bin Abdillah bin Mani’ dikatakan: “Pujian kebaikan menunjukkan kebenaran akidah, tidak akan mencukupkan mereka.”mengikuti Rasulullah Wallahu A’lam.

Sumber Bacaan:
1. Al Qur’an
2. Riyadhus Shalihin - Imam An Nawawi
3. Taisir Karimir Rahman - Syaikh As-Sa’dy
4. Syarah Aqidah Wasithiyyah - Syaikh Utsaimin
5. Silsilah Hadits Shahih - Syaikh Al Albani
6. Makanatu Ahlil Hadits - Syaikh Dr.Rabi’
7. Manhajus salaf Fitta’amul Ma’a kutubi Ahlil Bida’i - Muhammad bin Mani’


MANHAJ (JALAN) GOLONGAN YANG SELAMAT


1. Golongan Yang Selamat ialah golongan yang setia mengikuti manhaj Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hidupnya, serta manhaj para Shahabat sesudahnya.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
“Aku tinggalkan padamu dua perkara yang kalian tidak akan tersesat apabila (berpegang teguh) kepadanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku. Tidak akan bercerai berai sehingga keduanya menghantarku ke telaga (Surga).” (Dishahihkan Al-Albani dalam kitab Shahihul Jami’)
2. Golongan Yang Selamat akan kembali (merujuk) kepada Kalamullah dan Rasul-Nya tatkala terjadi perselisihan dan pertentangan diantara mereka, sebagai realisasi firman Allah :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا

“Kemudian jika kamu berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An-Nisa’ : 59)
فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisa’ : 65)
3. Golongan Yang Selamat tidak mendahulukan perkataan seseorang atas Kalamullah dan Rasul-Nya, realisasi dari firman Allah :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Hujurat : 1)
Ibnu Abbas berkata :
“Aku khawatir akan jatuh batu dari langit (mereka akan binasa). Aku katakan, ”Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, sedang mereka (membantah) dengan mengatakan, “Abu Bakar dan Umar berkata.” (HR. Ahmad dan Ibnu Abdil Barr)
4. Golongan Yang Selamat senantiasa menjaga kemurnian tauhid. (Silahkan baca buku yang sangat bagus tentang masalah Tauhid dengan judul “Kitab Tauhid” karya Syaikh Muhammad At-Tamimi, yang mengupas tentang keagungan kedudukan tauhid serta menerangkan berbagai macam syirik yang sangat berbahaya,ed).
5. Golongan Yang Selamat senang menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah, baik dalam ibadah, perilaku dan dalam segenap hidupnya, karena itu mereka menjadi orang-orang asing di tengah kaumnya, sebagaimana disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam :
“Sesungguhnya Islam pada permulaannya adalah asing dan akan kembali menjadi asing seperti pada permulaannya. Maka keuntungan besar bagi orang-orang yang asing.” (HR. Muslim)
Dalam riwayat lain disebutkan,
“Dan keuntungan besar bagi orang-orang yang asing. Yaitu orang-orang yang (tetap) berbuat baik ketika manusia sudah rusak.” (Al-Albani berkata,”Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Amr Ad-Dani dengan sanad Shahih.”)
6. Golongan Yang Selamat tidak berpegang kecuali kepada Kalamullah dan Kalam Rasul-Nya yang ma’sum, yang berbicara dengan tidak mengikuti hawa nafsu. Adapun manusia selainnya, betapapun tinggi derajatnya, terkadang ia melakukan kesalahan, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam :
“Setiap bani adam (pernah) melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang bertaubat.” (Hadits Hasan riwayat Imam Ahmad)
Imam Malik berkata, ”Tak seorang pun sesudah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melainkan ucapannya diambil atau ditinggalkan (ditolak) kecuali Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (yang ucapannya selalu diambil dan diterima).”
7. Golongan Yang Selamat adalah para ahli hadits. Tentang mereka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
“Senantiasa ada segolongan dari ummatku yang memperjuangkan kebenaran, tidak membahayakan mereka orang yang menghinakan mereka sehingga datang keputusan Allah.” (HR. Muslim)
8. Golongan Yang Selamat menghormati para imam mujtahidin, tidak fanatik terhadap salah seorang diantara mereka. Golongan Yang Selamat mengambil fiqih (pemahaman hukum-hukum Islam) dari Al-Qur’an, hadits-hadits yang shahih, dan pendapat-pendapat imam mujtahidin yang sejalan dengan hadits shahih. (Lihat perkataan para Imam Madzhab pada muqaddimah kitab Sifat Shalat Nabi, karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, yang mereka bersepakat agar meninggalkan perkataan mereka bila tidak sesuai dengan hadits shahih, ed.)
9. Golongan Yang Selamat menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Mereka melarang segala jalan bid’ah (perkara yang diada-adakan dalam agama) dan sekte-sekte yang menghancurkan dan memecah belah ummat. Baik bid’ah dalam hal agama maupun dalam hal sunnah Rasul dan para shahabatnya.
10. Golongan Yang Selamat mengajak seluruh ummat Islam agar berpegang teguh kepada sunnah Rasul dan para shahabatnya, sehingga mereka mendapatkan pertolongan dan masuk surga atas anugerah Allah dan syafa’at Rasulullah –dengan izin Allah-.
11. Golongan Yang Selamat mengingkari perundang-undangan yang dibuat oleh manusia, sebab undang-undang tersebut bertentangan dengan ajaran Islam. Golongan Yang Selamat mengajak manusia berhukum kepada Kitabullah yang diturunkan Allah untuk kebahagiaan manusia di dunia dan di akhirat. Allah Maha Mengetahui sesuatu yang lebih baik bagi mereka. Hukum-hukumnya abadi sepanjang masa, cocok dan relevan bagi penghuni bumi sepanjang zaman.
12. Golongan Yang Selamat mengajak seluruh ummat Islam berjihad di jalan Allah. Jihad adalah wajib bagi setiap muslim sesuai dengan kekuatan dan kemampuannya. Jihad dapat dilakukan dengan :
1. Jihad dengan lisan dan tulisan
Mengajak ummat Islam dan ummat lainnya agar berpegang teguh dengan ajaran Islam yang shahih, tauhid yang murni dan bersih dari syirik yang ternyata banyak terdapat di negara-negara Islam. Rasulullah Shallallahu ‘Aliahi wa Sallam telah memberitakan tentang hal yang akan menimpa ummat Islam ini.
Beliau bersabda :
“Hari kiamat belum akan tiba, sehingga kelompok-kelompok dari ummatku mengikuti orang-orang musyrik dan sehingga kelompok-kelompok dari ummatku menyembah berhala-berhala.” (Hadits shahih, riwayat Abu Dawud, hadits yang semakna ada dalam riwayat Muslim)
2. Jihad dengan harta
Menginfaqkan harta buat penyebaran dan perluasan ajaran Islam, mencetak buku-buku da’wah ke jalan yang benar, memberikan santunan kepada ummat Islam yang masih lemah iman agar tetap memeluk agama Islam, memproduksi dan membeli senjata-senjata dan peralatan perang, memberikan bekal kepada mujahidin, baik berupa makanan, pakaian atau keperluan lain yang dibutuhkan.
3. Jihad dengan jiwa
Bertempur dan ikut berpartisipasi di medan peperangan untuk kemenangan Islam. Agar kalimat Allah (Laa ilaha illallahu) tetap jaya sedang kalimat orang-orang kafir (syirik) menjadi hina.
Dalam hubungannya dengan ketiga perincian jihad diatas, Rasulullah Shallallahu ‘Alihi wa Sallam mengisyaratkan dalam sabdanya :
“Perangilah orang-orang musyrik itu dengan harta, jiwa dan lisanmu.” (HR Abu Dawud, hadits Shahih).

(Disadur dengan beberapa ringkasan dari kitab Manhaj Al-Firqatun Naajiah (Jalan Golongan Yang Selamat), karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu.

Semoga kita semua dapat mengambil manfaat dari tulisan ini. Amin
“Meniti Jejak salafus sholeh”
(Para Sahabat Nabi, Tabi’in, dan Tabi’ut Tabi’in)



Sedikit Di Atas Sunnah Lebih Baik Daripada Banyak Di Atas Bid’ah
Oleh : Al Ustadz Muhammad Umar As Sewwed
[ Majalah Islami Salafy Edisi VII ]

Bahaya ifrath (ghuluw). Ifrath adalah sikap ghuluw yaitu berlebih-lebihan dalam beramal dan melampaui batas-batas sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sampai tercebur ke dalam berbagai macam bid’ah yang sama sekali tidak terdapat dalam Al-Qur’an, tidak tersebut dalam As-Sunnah dan tidak pula dikenal oleh para shahabat radlyiallahu ‘anhum. Dan orang yang beramal dengan sikap ifrath ini, mereka mengerjakannya dalam keadaan yakin bahkan sangat yakin bahwa hal ini adalah taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah. Maka bagaimana kiranya mereka akan bertaubat???
Dalam riwayat yang shahih Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Sesungguhnya Allah menghalangi taubat setiap pelaku kebid’ahan.” (HR. Baihaqi, Thabrani, dan lain-lain)
Karena hadits ini mungkin baru bagi kita maka perlu kiranya kita perhatikan keterangan Syaikh Al-Albani tentang keshahihannya. Beliau berkata : “Sanad (hadits) ini shahih. Dan para perawinya terpercaya (tsiqah) termasuk para perawi (yang dipakai) oleh dua syaikh (Bukhari dan Muslim), kecuali Harun bin Musa, yaitu Al-Farawi. Berkata An-Nasai dan diikuti oleh Al-Hafidz (Ibnu Hajar) dalam At-Taqrib : 'Dia tidak mengapa (la ba’sa bihi).' Berkata Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid 10/189 : 'Diriwayatkan oleh Thabrani dalam Al-Ausath dan para perawinya termasuk perawi kitab shahiha’in (Bukhari Muslim), selain Harun bin Musa Al-Farawi. Tetapi diapun tsiqah.' Berkata Al-Mundziri dalam At-Targhib 1/45 : 'Diriwayatkan oleh Thabrani dengan sanad HASAN.' " (Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah oleh Syaikh Al-Albani jilid 4 hal. 154 hadits no. 1620)
Demikianlah bahaya bid’ah yang kebanyakan disebabkan oleh sikap ghuluw. Allah akan menjauhkan dan menghalangi pelakunya dari taubat. Dan inilah yang menyebabkan para ulama menyatakan bahwa pelaku bid’ah tidak akan berpindah, kecuali kepada yang lebih jelek daripadanya sebagaimana dinukil oleh Imam As-Syathibi dalam Al-I’tisham diantaranya :
Dari Yahya bin Abi Amr Asy-Syaibani bahwa dia berkata : "Bahwasanya dikatakan : 'Allah enggan dengan taubat setiap pelaku bid’ah dan tidaklah berpindah pelaku bid’ah kecuali kepada bid’ah yang lebih jelek.' "
Dan yang seperti itu dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu bahwa dia berkata :
“Tidaklah seseorang berada di atas suatu pendapat dari kebid’ahan kemudian meninggalkannya, kecuali berpindah kepada yang lebih jelek dari itu.”
Juga dari Ibnu Syaudzab dia berkata : “Aku mendengar Abdullah Ibnul Qasim berkata : Tidaklah seorang hamba berada di atas Al-Hawa (kemudian) meninggalkannya, kecuali berpindah kepada sesuatu yang lebih jelek daripadanya. (Atsar-atsar di atas dinukil dari kitab Al-I’tisham oleh Imam Asy-Syathibi 1/12-163 dengan tahqiq Syaikh Salim Al-Hilali)
Demikianlah keadaan Ahli Bid’ah yang menambah-nambah Dien ini dengan syariat-syariat baru, aturan ibadah baru, penilaian baru, anggapan baru, keyakinan baru, cara berdakwah baru, dan perkara baru yang lain yang tidak pernah dikenal oleh para shahabat, tabi’in maupun tabiut tabi’in. Memang bisa jadi mereka berniat baik, tetapi melampaui batas dan berlebih-lebihan hingga keluar dari sunnah. Inilah ghuluw.
Kalau seseorang sudah menganggap baik (istihsan) perkara-perkara yang muhdats (bid’ah), sungguh sangat tipis harapan untuk bertaubat. Berkata Imam As-Syatibi setelah menukil atsar dan hadits di atas : “… jika seorang pelaku bid’ah keluar darinya (ruju’) maka sesungguhnya dia keluar kepada yang lebih jelek daripadanya sebagaimana dalam hadits Ayyub. Atau dia termasuk yang menampakkan seakan-akan rujuk padahal setelah itu dia tetap berada di atas kebid’ahan tersebut seperti kisah Ghailan bersama Umar bin Abdul Aziz." (Al-I’tisham 1/163)
Yang dimaksud dengan hadits Ayyub adalah sebagai berikut : Dari Ayyub dia berkata :
“Ada seseorang berpendapat dengan suatu pendapat (yang bid’ah, pent) kemudian rujuk, maka aku mendatangi Muhammad dengan gembira karena itu, untuk mengabarkan kepadanya. Aku mengatakan : 'Tidakkah engkau merasa senang bahwa si fulan telah meninggalkan pendapatnya yang pernah diucapkannya?' Maka dia berpendapat : 'Lihatlah ke mana dia berpindah? Sesungguhnya akhir hadits lebih dahsyat dari awal hadits atas mereka : Mereka keluar dari Dien … kemudian tidak akan kembali (kepadanya)." (Al-I’tisham 1/163) (Yang dimaksud adalah hadits tentang khawarij yang diriwayatkan oleh Muslim)
Sedang kisah Ghailan adalah sebagai berikut :
“Diriwayatkan oleh Amru bin Muhajir : Sampai berita kepada Umar bin Abdul Aziz bahwa Ghailan Al-Qadari berbicara tentang taqdir. Maka beliau mengutus seseorang kepadanya dan memenjarakannya beberapa hari. Kemudian dia dihadapkan kepada Umar bin Abdul Aziz dan beliau berkata : 'Berita apa yang sampai kepadaku ini tentangmu?' Berkata Amir bin Muhajir (periwayat) : 'Aku isyaratkan kepadanya agar tidak berbicara sesuatupun.' Tetapi dia (Ghalian) berkata : 'Ya! Wahai Amirul Mukminin. Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla berfirman' :
'Bukankah telah datang atas manusia suatu waktu dari masa, sedangkan dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur, yang Kami hendak mengujinya, oleh karena itu Kami menjadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya kepada jalan itu. Ada yang bersyukur, adapula yang kufur.' (Al-Insan : 1-3)
(Maksudnya dia menolak taqdir dengan ayat ini, pent).
Maka berkatalah Umar bin Abdul Aziz : 'Bacalah sampai akhir surat.' [ 'Dan tidaklah kalian berkehendak (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dia memasukkan siapa yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya dan bagi orang-orang yang dhalim disediakan adzab yang pedih.' (Al-Insan:30-31) ]
Kemudian berkata : 'Apa yang akan kamu katakan wahai Ghailan?' Dia menjawab: 'Aku katakan, aku dahulu buta dan engkau telah membuat aku melihat. Aku dahulu tuli dan engkau telah membuat aku mendengar. Dan aku dulunya sesat dan engkau telah menunjukiku.' Maka berkatalah Umar rahimahullah : 'Ya Allah, jika benar hamba-Mu Ghailan jujur, kalau tidak saliblah dia.'
Setelah itu Ghailan berhenti dari ucapannya tentang taqdir hingga meninggallah Umar bin Abdul Aziz rahimahullah. Kemudian khilafah berpindah ke tangan Hisyam rahimahullah. Maka mulailah Ghailan berbicara tentang taqdir. Kemudian Hisyam mengutus seseorang kepadanya dan memotong tangannya. Ketika itu lewatlah seseorang sedangkan lalat hinggap di tangan Ghailan maka berkatalah dia : 'Wahai Ghailan! Ini adalah qadla dan qadhar (takdir)!' Dia berkata : 'Engkau berdusta, demi Allah! Ini bukanlah qadla dan qadar.' Ketika Hisyam mendengarnya dia mengutus kembali utusannya dan menyalibnya." (Dinukil secara makna dari Al-I’tisham 1/85-86)
Demikianlah para pelaku bid’ah, jauh dari taubat dan berakhir dengan su’ul khotimah. Wal’iyadzubillah.
Kiranya cukup yang demikian bagi kita untuk berhati-hati dari bid’ah dan beramal dengan sunnah.
Berkata para Salafussholih : Sederhana dalam sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh (tetapi) dalam bid’ah.

Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid berkata : “Kalimat emas ini telah shahih riwayatnya dari shahabat, tidak hanya seorang. Seperti diantaranya Abu Darda dan Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhuma. Sebagaimana dalam kitab Syarah Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah wal Jama’ah hal. 114-115, Kitab As-Sunnah oleh Ibnu Nashr hal.27-28 dan Kitab Al-Ibanah oleh Ibnu Baththah 1/320 dan lain-lain.” (Lihat Ilmu Ushulil Bida’ oleh Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid hal. 55)
Demikianlah kalimat yang memberikan manhaj besar bagi seorang Muslim. Dalam amalan dan ucapannya agar selamat dari ghuluw dan diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima amalan yang paling baik bukan yang paling banyak. Sedangkan yang paling baik adalah yang paling cocok dengan sunnah. Allah berfirman :
"Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian siapa yang terbaik amalannya." (Al-Mulk : 2)
Fudlail bin Iyadl berkata : “Yang paling baik amalnya adalah yang paling ikhlas dan paling benar (cocok dengan sunnah, pent).”
Diriwayatkan pula dari Ubay bin Ka’ab radhiallahu ‘anhu bahwa dia berkata : “Sesungguhnya sederhana di atas jalan dan sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam menyelisihi jalan dan sunnah, maka lihatlah jika amal kalian sederhana atau sungguh-sungguh hendaklah berada di atas manhaj para nabi dan sunnah mereka shalallahu ‘alaihi wa sallam.” (Al-Lalika’i dalam Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah 1/54 no. 10)
Dengan ucapan beliau di atas jelas bahwa maksud ucapan para shahabat bukanlah agar kita sedikit mengamalkan sunnah, tapi agar berhati-hati dari sikap ghuluw, yaitu berlebih-lebihan dalam ibadah hingga keluar dari sunnah dan masuk ke dalam berbagai macam bid’ah. Lebih baik sedikit tetapi di atas sunnah daripada beramal dengan bidah-bid’ah walaupun sangat banyak dan besungguh-sungguh. Bahkan tidur dengan cara sunnah lebih baik daripada bangun malam dengan cara bid’ah, sebagaimana dikatakan oleh Abul Ahwash rahimahullah ketika berkata pada dirinya :
Wahai Sallam (nama beliau), tidur di atas sunnah lebih baik daripada engkau bangun di atas bid’ah.
Demikian semoga Allah menjaga kita dari ghuluw dan melampaui batas-batas sunnah dan memberikan taufiq kepada kita dan seluruh kaum Muslimin kepada jalan yang lurus, beramal dengan sunnah dan selamat dari bid’ah. Amin.

Tidak ada komentar: